Daftar Blog Saya

Pengikut

About Me

Reni Finna Ast
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Narkoba rusak kota wisata Bali

Kuta, yang terletak di ujung selatan Bali, terkenal akan pantai-pantai indah dan ombaknya. Namun demikian, menurut warga setempat, tempat itu telah mendapat reputasi untuk hal yang lebih buruk – yaitu narkoba yang dijual di jalanan.
  • Para petugas bea cukai menangkap seorang tertuduh penyelundup narkoba   Filipina, Maria Cecilia Lopez, di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali tahun   lalu.Meskipun adanya ganjaran berat, perdagangan narkoba masih aktif di   beberapa bagian pulau itu, termasuk kota wisata Kuta. [Stringer/Reuters] Para petugas bea cukai menangkap seorang tertuduh penyelundup narkoba Filipina, Maria Cecilia Lopez, di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali tahun lalu.Meskipun adanya ganjaran berat, perdagangan narkoba masih aktif di beberapa bagian pulau itu, termasuk kota wisata Kuta. [Stringer/Reuters]
“Saya berusaha tidak datang ke sana karena ada narkoba,” kata Gede Parmita, eksekutif asisten manajer Hotel Sanur Beach, yang terletak sekitar 40 menit dari lokasi itu. Dia percaya, para pengedar narkoba ini memalukan bagi industri pariwisata Bali yang berkembang ini.
Indonesia menjatuhkan hukuman berat untuk kepemilikan, penggunaan, atau penyelundupan obat-obatan terlarang. Hukuman dapat berkisar dari 20 tahun penjara, denda sebesar 1 milyar rupiah ($106.000) atau hukuman mati. Namun demikian semua ini tampaknya tidak menggentarkan beberapa pengedar lokal. Bekerja dalam kelompok, mereka secara terbuka mendekati para pejalan kaki jika mereka tertarik “mendapatkan” apapun dari ganja sampai ekstasi dan shabu-shabu.
“Sebaiknya berkata ‘tidak’ dan terus berjalan,” ucap Parmita.
Seseorang bernama Alex yang berusia 26 tahun berbicara kepada Khabar tentang motif yang mendorong orang-orang menjalankan perdagangan yang dapat menghantarkan mereka ke penjara atau bahkan merenggut nyawa mereka. “Masalahnya hanya mengisi perut saja,” katanya.
Dia menyalahkan pemboman maut di Kuta pada tahun 2002 dan 2005, yang membunuh ratusan orang dan merusak industri pariwisata setempat, karena menghancurkan penghidupan setempat dan banyak orang terpaksa menjalankan perdagangan gelap.
Pria yang dulunya pernah bekerja sebagai pembuat perabotan ini berkata kepada Khabar bahwa sekarangpun menjalankan usaha yang taat hukum saja sulit.
Kisah para pengecer busana Claude Jouvaud dan Lucie Nijel lebih menggembirakan. Delapan bulan lalu, mereka membuka Toko Makassi di kawasan bisnis Jalan. Mereka berkata kepada Khabar, sementara beberapa usaha di sekitar lokasi itu telah tutup selama tahun-tahun belakangan ini, banyak pengusaha baru telah membuka toko yang didanai oleh penanaman modal asing.
Pelancong dari Malaysia Prakash Mukerjee, 52 tahun, tidak melihat bahwa masalah ini telah memburuk dalam tahun-tahun belakangan ini. Sebagai orang yang pernah tinggal di Kuta, dia berkata bahwa kegiatan pengedaran lebih kuat tiga puluh tahun yang lalu – dan dia sendiri didekati kelompok-kelompok pengedar narkoba untuk direkrut sebagai penjual.
“Mereka selalu menjanjikan kepada saya bahwa tidak akan ada hukuman mati. Pad saat itulah, saya menjadi takut,” katanya kepada Khabar, serya berkata dia memutuskan meninggalkan Kuta karena itu.
Upaya penanggulangan narkoba di Indonesia terhambat masalah geografi. Sebagai negara kepulauan luas bergaris pantai panjang, Indonesia memiliki tantangan unik dalam penegakan hukum. Bagaimanapun juga, menurut penduduk setempat, para penegak hukum berupaya memberantas pengedaran narkoba.
Mereka yang tergoda membeli narkoba di Bali harus waspada bahwa transaksi itu bisa berakibat penangkapan secara cepat, manajer hotel Parmita memperingatkan.
“Sebaiknya berhati-hati jika membeli apapun dari para penjual ini sebab beberapa dari mereka mungkin saja agen narkotika yang menyamar. Mereka akan menangkapmu segera setelah uang berpindah tangan.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar